Who’s the Real person of 2008?

Namun,dilihat dari historikalnya,ada tiga teori yang bisa menjelaskan kemunculan seorang tokoh,yakni teori genetis (kerajaan), teori sosial (melalui pergumulan masyarakat yang bisa disebut lawan dari genetis),dan teori ekologi,di mana seorang tokoh itu muncul sebagai reaksi dari kedua teori tersebut. Dalam teori ekologi, tokoh yang muncul dari suatu lingkungan yang konfrontatif biasanya tokoh itu sangat kondisional dan berhasil mengondisikan lingkungannya. Tipe tokoh semacam ini mampu menyesuaikan tuntutan masyarakat, termasuk ketika keadaan sebuah negara sedang kacau,tiba-tiba muncul tokoh yang mampu memberi harapan untuk menyelesaikan sebuah persoalan,baik dengan inisiatif sendiri maupun atas dorongan masyarakat di sekitarnya. Tokoh seperti ini karena sejak awal memiliki kemampuan memimpin dan memiliki komitmen yang besar untuk membuat sebuah perubahan. Tidak salah ketika majalah TIME edisi 29 Desember 2008 memilih Presiden AS terpilih Barack Obama sebagai Person of The Year. Obama sebagai tokoh yang unik,karena dari komunitas minoritas kulit hitam tampil dengan keberaniannya membelah hegemoni kulit putih dengan sebuah harapan besar: perubahan. Perubahan yang ditawarkan Obama bukan absurd, melainkan perubahan yang bisa menyentak semua lapisan dan etnis di Amerika,yakni menuju Amerika yang sesungguhnya.Kini jargon perubahan telah mendengung menjadi sebuah kredo di mana-mana.Bukan hanya rakyat Amerika,dunia sangat merindukan implementasi kredo perubahan Obama. Selain Obama,masih banyak tokoh lain yang kini sedang diperbincangkan karena komitmennya membawa sebuah perubahan.Mantan PM Inggris Tony Blair membuat tulisan menarik di majalah TIMEtentang Presiden Prancis,Nicholas Sarkozy.Presiden yang baru 18 bulan memimpin ini dimasukkan sebagai tokoh yang membawa perubahan besar. <!–more …baca lebih lanjut–>

Terlepas dari kepemimpinan Sarkozy yang kontroversial karena diplomasi politiknya atau dalam menjalankan proses ketatanegaraan terkadang dibumbui dengan memamerkan istri barunya seorang model,artis yang cantik,Carla Bruni,tetapi Blair memiliki banyak catatan penting tentang Sarkozy. Di mata Blair,Sarkozy adalah hallmark (simbol) pemimpin yang sesungguhnya.Memiliki kapasitas mengambil putusan yang cepat dan mampu menjalankan dengan cepat pula.Dia diilustrasikan sebagai sosok yang setiap melihat sebuah problem segera ingin memecahkannya.What”s more, he believes he can. Sebagai Presiden Uni Eropa, Sarkozy juga telah banyak memainkan peranan penting dalam berbagai krisis, baik persoalan krisis ekonomi global, krisis di Georgia,maupun yang sedang menghangat,yakni agresi Israel ke Jalur Gaza.Sarkozy dalam kemelut Israel-Gaza memiliki konsen besar dengan menunjukkan dirinya sebagai sahabat yang baik dengan cara mengirim SMS pada kedua pihak yang bertikai; there can be no peace without stopping settlement. ”Ilustrasi lain dari Blair,Sarkozy tipe pemimpin yang tidak peragu (no doubt),dan think out side the box.

Bagi Indonesia,memiliki tokoh besar seperti Obama ataupun Sarkozy yang memiliki komitmen besar membawa sebuah perubahan sangat diperlukan.Ini bukan menunjukkan inferioritas atau pesimistis sebagai bangsa yang besar dengan populasi 230 juta jiwa, tetapi yang diinginkan adalah,dari bangsa ini benar-benar muncul tokoh yang bisa membawa perubahan yang berkemakmuran dan berkeadilan serta mampu menaikkan kewibawaan bangsa di atas bangsabangsa lain. Indonesia masih meyakini, tokoh-tokoh yang diharapkan itu ada dan mampu memerankan dengan perannya yang besar. Ketika koran SINDO melakukan survei masyarakat dan panel expert yang melibatkan para profesor, profesional, budayawan, untuk memilih para tokoh yang mempunyai komitmen dan kontribusi besar dalam perubahan berhasil menemukan empat tokoh di bidangnya masing-masing. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai People of The Year(POTY) kategori politik,Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam kategori bidang ekonomi,Dedy Mizwar kategori budaya,dan istri almarhum Munir terpilih dalam kategori hukum. Empat tokoh ini terpilih karena diyakini tidak saja membawa komitmen perubahan, tetapi menunjukkan karakter thinking outside the box,doing inside the box,doing ordinary things extraordinarily well. Memang,dalam menentukan POTY kali ini ada yang cukup rumit,yakni ketika memilih tokoh politik. SINDO sebagai media independen memiliki beban berat ketika harus menentukan pilihan.Saat pilihan jatuh pada Megawati,SINDO akan mendapatkan stigma ”mendukung” Mega.Memilih Wapres Jusuf Kalla,akan dicurigai punya kepentingan politik tertentu, memilih Sri Sultan,Gus Dur,ataupun Presiden SBY,tetap akan mendapatkan stigma berpihak pada kepentingan politik mereka. Mengapa untuk kategori politik akhirnya memilih Presiden SBY? Ada pertimbangan objektif yang sangat kuat,yakni hasil survei perolehan suara Presiden SBY jauh perbedaannya dengan tokoh politik lain,dan para juri (panel expert) merasa tidak memiliki argumentasi yang kuat untuk tidak memilih Presiden SBY. Padahal,para juri memiliki hak suara untuk tidak memilih Presiden SBY––meski suara publik memilih Presiden SBY.Namun dari argumentasi yang dilontarkan,mereka tetap berkesimpulan; untuk kali ini SBY masih yang terbaik! Koran SINDO akhirnya menerima pilihan itu sebagai putusan,karena dalam menentukan pilihan ini,tim redaksi SINDO hanya memiliki hak berpendapat,tetapi tidak memiliki hak suara.Yang memiliki hak suara sepenuhnya adalah publik dan para juri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: