J-ROCKS ‘Goes to Abbey’ story

The Beatles dan Obbey Road Studio ibarat dua sisi dari mata uang. Pada 1962-1970 John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr, melahirkan lebih dari 200 lagu di studio London tersebut. J-Rocks menjadi grup band pertama Indonesia yang rekaman di sana. Laporan ISHAQ BAHRI.

Cuaca Kota London di pertengahan Oktober seperti wajah wanita: suka berubah. Kemarin cerah-bersahabat, hari ini berkabut-gerimis. Daun-daun pun mulai berguguran di Hyde Park karena kedinginan. Abbey House yang bersebelahan dengan Abbey Road Studio tampak seperti rumah tak berpenghuni karena halamannya dipenuhi daun kering.

Minggu (12/10) pagi sekitar pukul 07.00 waktu London, rombongan J-Rocks, termasuk Jawa Pos, baru tiba di Abbey Road. Udara sangat dingin. Menurut ramalan cuaca di TV BBC I, suhu Kota London dan sekitarnya mencapai 14 derajat Celsius. Tapi, pada malam hari bisa drop hingga 7 derajat Celsius.

Kami ber-16 orang tidak datang bersamaan. Awak J-Rocks dan kru tiba lebih awal dengan taksi. Mereka rupanya sudah tidak sabar untuk segera melihat dan menjadi bagian dari sejarah studio rekaman paling sohor sejagat itu. Saya sendiri bersama lima teman lain memilih naik tube karena ingin merasakan sensasi salah satu kereta bawah tanah tertua di Eropa itu.

Dari The Cumberland Hotel, kami berjalan kaki sekitar 300 meter menuju stasiun underground Marble Arch. Di sana kami membeli tiket tube mingguan dengan harga 25 pounds per tiket (1 pound = Rp 16.000). Tiket yang diberi nama Oyster itu bisa digunakan berulang-ulang (tanpa batas) selama sepekan. Bukan hanya untuk naik tube, tapi juga bus di seantero London.

Itu artinya kita bebas berkeliling menyusuri lika-liku Kota London selama seminggu dengan murah meriah. Namun, London sebagai salah satu pusat mode di dunia, lebih asyik dijelajahi dengan berjalan kaki. Kita bisa cuci mata dengan puas karena jalan-jalan utama di ibu kota Inggris itu tak ubahnya cat walk. Mau belanja, mulai yang murah hingga termahal, tersedia.

Memang, naik tube lebih lama. Sebab, kita harus berganti-ganti kereta. Belum lagi, bila tiba-tiba ada jalur yang ditutup karena alasan perbaikan. Itu yang kami alami ketika jalur Jubelee ditutup. Kami pun harus mencari jalur alternatif. Akhirnya kami memilih naik bus.

Untuk ke Abbey Road, normalnya kami harus naik tube dari Marble Arch ke Bond Street, lalu ganti tube tujuan Baker Street, dan turun di Stasiun John’s Wood, sekitar 300 meter dari Abbey Road Studio. Asyiknya lagi, di sekitar Stasiun John’s Wood ada Beatles Coffee Shop, yang menjual segala macam barang yang berhubungan dengan grup legendaris tersebut.

Setibanya di Abbey Road, saya merasa sedikit ”kecewa” karena tidak melihat bangunan megah sebuah perusahaan rekaman kelas dunia seperti yang saya bayangkan. Studio terkenal tempat lagu-lagu The Beatles direkam, tempat Pink Floyd, Oasis, dan Radiohead berkarya. Tempat ilustrasi musik dalam film Lord of The Rings, Star Wars, Indiana Jones, dan Harry Potter digarap.

Dari luar, bahkan Abbey Road Studio tak tampak seperti perusahaan rekaman. Apalagi, tak ada tulisan ”studio” di belakang nama Abbey Road yang tercetak di atas pintu utama bangunan itu. Tulisan EMI, nama perusahaan rekaman yang menaunginya, yang pada awal kehadirannya (1931), tercetak di belakang kata Abbey Road, kini tidak ada. Mungkin semua itu sudah tidak diperlukan lagi. Sebab, tanpa embel-embel ”studio” atau ”EMI”, orang sudah tahu apa itu Abbey Road.

Arsitektur bangunan Abbey Road Studio juga tak lebih menonjol dibanding bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Bahkan, secara fisik Abbey Road Studio kelihatan lebih bersahaja. Orang mungkin bisa mengenali Abbey Road sebagai perusahaan recording karena di halamannya sering ada truk melakukan bongkar muat alat-alat musik kebutuhan musisi yang sedang rekaman.

Tanda khusus lain yang membuat Abbey Road Studio kelihatan berbeda dengan bangunan sekitarnya adalah kerumunan orang di zebra cross (crossing) dan tembok pagar Abbey Road yang penuh dengan coretan.

Ya, itu lantaran Abbey Road Studio kini memang bukan lagi sekadar studio rekaman. Tempat itu telah menjelma menjadi salah satu ikon pariwisata Kota London. Meski tak seramai London Tower atau Jalan Oxford (pusat wisata belanja), Abbey Road tak pernah sepi pelancong.

Keinginan mereka pun sederhana: sekadar ingin menyeberang di zebra cross Abbey Road yang amat tersohor itu. Tentu saja sambil mengabadikan diri dengan kamera. Tak terkecuali empat awak J-Rocks. Anton (drum), Sony (gitar), Wima (bas), dan Iman (vokal/gitar) juga merekonstruksi adegan yang pernah dijadikan gambar sampul album The Beatles berjudul Abbey Road (1969) itu.

Empat anggota J-Rocks berpose ala John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr saat menyeberang di zebra cross Abbey Road. Agar berbau Indonesia, mereka tidak memakai jaket atau jas seperti para personel The Beatles, melainkan baju putih lengan pendek dipadu garis-garis batik, kostum untuk foto yang sudah dipersiapkan dari Indonesia.

Tentu saja, karena tergolong berpakaian minim, mereka harus berjuang melawan hawa dingin. ”Ayo, diulang lagi. Tadi belum pas,” teriak Anya, istri Sigit, manajer J-Rocks. Mereka harus mengulang adegan itu berkali-kali sambil menunggu arus lalu lintas sepi atau lampu untuk penyeberang menyala.

J-Rocks dan kawan-kawan tampaknya memang tak mau menyiakan-siakan peluang emas (rekaman di Abbey Road Studio London) yang mereka raih setelah menjuarai A Mild Live Soundrenaline 2008. Selain merekam lagu, mereka membikin klip video dan merancang cover single yang diberi tajuk Falling in Love itu.

Namun, J-Rocks bukan satu-satunya yang merekonstruksi sampul album Abbey Road tersebut. ”Ratusan ribu orang dari seluruh penjuru dunia yang berkunjung ke London menyempatkan diri berfoto di crossing (zebra cross, Red) itu,” kata Laura, gadis penjaga Beatles Coffee Shop.

Laura mungkin asal sebut angka. Sebab, pengunjung Abbey Road memang sulit dihitung karena orang tidak diharuskan membeli tiket. Namun, angka itu juga masuk akal. Sebab, dalam pengamatan Jawa Pos, hanya dalam tempo sekitar 30 menit, belasan orang saling bergantian berfoto ria di sana. ”Kalau di Indonesia, pasti sudah banyak tukang foto keliling,” seloroh seorang teman.

Para pengunjung itu tak hanya difoto temannya saat menyeberangi zebra cross, tapi ada juga yang nekat berpose tidur-tiduran di aspal. Dan, tingkah polah para fans The Beatles itu tak ubahnya menantang bahaya. Sebab, zebra cross yang berada persimpangan Abbey Road dan Grove End Road itu termasuk jalur yang ramai kendaraan.

abbeyroabzebracross
gambar: J-ROCKS ketika berpose menyebrangi ‘Abbey Road Zebra Cross’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: