Pencegahan Penularan HIV AIDS dari Ibu ke Bayi

Infeksi HIV kini telah mulai memasuki populasi umum. Belakangan, makin banyak ibu dan bayi yang HIV positif. Hal ini seiring dengan meningkatnya kasus HIV/AIDS di kalangan pencandu narkoba suntik yang mayoritas berusia muda dan memiliki pasangan seksual.

Data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menunjukkan, jumlah ibu hamil dan bayi yang positif terinfeksi HIV terus meningkat. Sejauh ini, tercatat 88 bayi atau anak diketahui HIV positif. Dari kegiatan konseling dan tes darah yang dilakukan Yayasan Pelita Ilmu (2003-2006) terhadap 2.470 ibu hamil di permukiman padat penduduk di Jakarta, 11 di antaranya positif HIV.

Menurut perkiraan Departemen Kesehatan, setiap tahun terdapat 9.000 ibu hamil HIV positif yang melahirkan di Indonesia. Berarti, jika tidak ada intervensi, sekitar 3.000 bayi dikhawatirkan lahir HIV positif setiap tahunnya di Indonesia.

“Perlu ada upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,” kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS, Nafsiah Mboi, dalam suatu kesempatan.

“Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah dengan intervensi, yaitu minum obat ARV profilaksis selama hamil, persalinan dengan operasi caesar, dan memberikan susu formula pada bayinya sejak baru lahir,” kata Wakil Ketua Yayasan Pelita Ilmu, Husein Habsyi. Dengan adanya tindakan pencegahan, risiko penularan dari 25-45 persen bisa berkurang jadi dua persen.

Sayangnya, efektivitas intervensi PMTCT ini seringkali terhambat oleh faktor biaya. “Obat-obat ARV profilaksis yang harus diminum selama hamil bisa didapat gratis. Namun, tidak semua ibu hamil HIV positif yang miskin ditanggung biaya operasi caesar-nya. Juga pembelian susu formula dan biaya obat untuk penyakit penyerta HIV/AIDS seperti tuberkulosis dan hepatitis C,” tutur Husein Habsyi.

Hambatan lain dari layanan PMTCT adalah kesiapan tenaga kesehatan. Kenyataan di lapangan, masih ada petugas kesehatan yang tidak bersedia memberi layanan operasi caesar bagi ibu HIV positif dengan alasan belum siap, peralatan medis kurang memadai, dan belum izin pimpinan rumah sakit.

“Petugas kesehatan seharusnya memberi pelayanan yang tidak diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS,” ujarnya.

“Kami berharap nantinya ada obat yang bisa menyembuhkan penderita HIV/AIDS. Kami tidak perlu dikasihani, tidak mau dicap sebagai seorang pendosa. Kami ingin menghilangkan cap itu. HIV/AIDS itu hanya masalah kesehatan biasa, bukan sesuatu yang hina,” papar Gin.

<a href=’aruka-thinkerbell.blogspot.com’ title=’xhine blog’>click here!</a>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: